Pilpres dan Manipulasi Survei

Pilpres dan Manipulasi Survei
Oleh : Fadil Abidin
Dimuat dalam Kolom OPINI Harian Analisa Medan, 7 Juli 2014

            Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) akan digelar 9 Juli nanti. Tapi sejak April hingga awal Juli berbagai lembaga survei telah mengumumkan hasil jajak pendapat tentang siapa presiden terpilih. Ada yang mempublikasikan pasangan Prabowo-Hatta memenangi Pilpres, tapi yang lainnya mempublikasikan Jokowi-Kalla yang memenangi Pilpres. Mana yang benar?

Saatnya Menyurvei Lembaga Survei

Saatnya Menyurvei Lembaga Survei
Oleh : Fadil Abidin
Dimuat dalam Kolom OPINI Harian Analisa Medan, 12 Juli 2014

            Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) telah usai, hasil resmi siapa pemenangnya baru akan diumumkan KPU pada 22 Juli 2014. Hasil hitung cepat (quick count) Pilpres 9 Juli menghadirkan sejumlah fenomena politik baru di tanah air. Kredibilitas kinerja lembaga survei dipersoalkan karena ada sejumlah hasil quick count dari lembaga survei yang mempublikasikan hasil yang berbeda-beda. Masing-masing pihak pun saling klaim kemenangan berdasarkan hasil hitung cepat tersebut.

Selamat Datang Oligarki !

Selamat Datang Oligarki !
Oleh : Fadil Abidin
Dimuat dalam Kolom OPINI Harian Analisa Medan, 10 Oktober 2014

Sudah enam puluh sembilan tahun kita merayakan usia kemerdekaan, dan enam belas tahun usia reformasi, namun kita belum sepenuhnya menjadi negara demokrasi. Bagaimana mungkin kita menyatakan diri sebagai negara demokrasi, jika dalam kenyataannya, oligarki yang berkuasa. Demokrasi yang kita praktikkan selama ini hanya menyediakan “panggung” bagi bertakhtanya oligarki.

Ada ‘Serigala’ di Sekolah

Ada ‘Serigala’ di Sekolah
Oleh : Fadil Abidin

            Ada ‘serigala’ di sekolahku. Sebagai guru SD pada mulanya saya tidak percaya ada ‘serigala’ berkeliaran di beberapa kelas di sekolah tempat saya mengajar. Ini lembaga pendidikan yang mendidik manusia agar menjadi manusia seutuhnya, bukan sirkus yang hendak mendidik binatang bertingkah laku layaknya manusia atau sebaliknya. Fenomena munculnya ‘serigala’ adalah jika tidak ada guru di dalam kelas maka akan terdengar lolongan serigala. Lolongan itu kemudian disahuti lolongan lain, berarti banyak ‘serigala’ di dalam kelas tersebut.

Louhan, Anthurium, Batu Akik dan Economic Bubble

Louhan, Anthurium, Batu Akik dan Economic Bubble
Oleh : Fadil Abidin

            Meminjam istilah futurolog Alvin Toffler, masyarakat dunia ketiga, termasuk Indonesia adalah masyarakat yang mudah terkejut (shock). Orang yang mudah terkejut biasanya akan gampang terkena sindrom latah. Latah mengikut-ikut apa saja yang dikatakan, dilakukan, dan dipakai orang lain tanpa perlu berpikir logis, sehingga kemudian terjadi latah berjamaah.

Meluruskan Istilah “86”

Meluruskan Istilah “86”
Oleh : Fadil Abidin

            “Delapan enam, Ndan. Delapan enam, lapan enam, Ndan.'' Demikian suara pembuka acara di sebuah stasiun televisi swasta tentang sepak terjang aparat kepolisian dalam memberantas kejahatan. Suara yang sama juga sering kita dengar dari handy talky milik polisi. Istilah delapan enam, lapan enam atau dalam angka ditulis ''86'' adalah salah satu kode atau sandi yang harus dipahami oleh semua anggota polisi.

Menangkis Pengaruh ISIS

Menangkis Pengaruh ISIS
Oleh : Fadil Abidin

            Beberapa bulan lalu, beberapa kota besar di Indonesia ada pawai dan pengumpulan massa untuk mendukung ISIS. Mereka bebas berorasi dan menggelar rapat umum di tempat-tempat terbuka. Ada yang sekadar ikut-ikutan tanpa mengetahui secara pasti apa itu ISIS.

Mengurangi Ketimpangan Subsidi Energi

Mengurangi Ketimpangan Subsidi Energi
Oleh : Fadil Abidin

Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 2.000 per liter. Sehingga harga premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500. Kenaikan harga BBM berlaku sejak 18 November 2014 lalu, dengan kenaikan tersebut pemerintah menghemat anggaran subsidi sekitar Rp 100 triliun.

Meretas Kenaikan Harga Beras

Meretas Kenaikan Harga Beras
Oleh : Fadil Abidin

            Sebagai guru Sekolah Dasar menghadapi anak-anak lugu nan belia dengan pertanyaan-pertanyaan kritis terkadang membuat saya sulit menjawab dengan tepat. Seperti sebuah pertanyaan,”Negara kita adalah negara agraris, tapi mengapa harga beras mahal, Pak?”

Televisi dan Distorsi Informasi

Televisi dan Distorsi Informasi
Oleh : Fadil Abidin

Sejak kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun lalu dunia televisi di tanah air seolah-olah terpolarisasi menjadi tiga kutub. Satu kutub terafiliasi memihak kepada capres dan cawapres Prabowo-Hatta, satu kutub yang memihak capres dan cawapres Jokowi-Jusuf Kalla, dan satu kutub yang ‘netral’, dalam arti tidak terlalu perduli dengan kegaduhan politik yang ada.