Angin Duduk, Sindrom Serangan Jantung Koroner Akut

‘Angin Duduk’ = Sindrom Serangan Jantung Koroner Akut
Oleh: Fadil Abidin
Dimuat di Harian Analisa Medan, 23 Agustus 2010

Ketika mertua saya meninggal mendadak setahun lalu, saya tidak tahu persis penyebab kematiannya karena ia berdomisili di sebuah desa di luar kota Medan. Tapi sepanjang pengetahuan saya dan istri, beliau selama ini sehat-sehat saja, tidak ada keluhan penyakit yang berat. Saya hanya mendapat informasi sekilas dari adik ipar bahwa beliau meninggal karena ‘masuk angin’ kemudian menjadi parah sehingga terkena ‘angin duduk’.

Saya pun lalu menelepon abang kandung, seorang dokter yang bertugas di Belitung dan menanyakan apa itu ‘angin duduk’. Menurut dia sebenarnya di dunia medis tidak dikenal penyakit ‘angin duduk’.
Di daerahnya tidak dikenal istilah itu, nama tersebut konon hanya nama lokal di beberapa daerah saja terutama di sekitar komunitas masyarakat suku Jawa. Tapi menurut ciri-ciri yang saya sebutkan sebagai penyebab kematiannya, ia lalu berke-simpulan bahwa mertua saya meninggal karena terkena sera-ngan jantung.
Banyak di antara kita yang sebenarnya sudah sering mendengar atau mengenal istilah ‘angin duduk’ ini, tapi sesung-guhnya banyak yang belum tahu jenis penyakit apakah angin duduk ini. Menurut beberapa jurnal medis di internet ‘angin duduk’ diidentifikasikan sama dengan Sindrom Jantung Koroner Akut, serangan ini hanya berlangsung dalam 15 menit sampai 30 menit.
Orang yang terserang ‘angin duduk’ bisa meninggal dunia secara mendadak. Padahal, si penderita sebelumnya terlihat sehat-sehat saja tanpa keluhan atau merasa kesakitan yang luar biasa. Dunia kedokteran selama dua tahun terakhir berhasil mengidentifikasi istilah baru penyakit jantung yang akrab disebut ‘angin duduk’ itu.
Ternyata penyakit ini tak sekadar masuk angin berat, tetapi identik dengan sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA). Teridentifikasinya istilah ini, menurut Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Prof DR dr Teguh San-toso.SpPD, menandai sebuah koreksi besar terhadap mitos yang berkembang di masyarakat selama ini yang menganggap enteng keluhan-keluhan serangan jantung awal yang memang mirip terkena masuk angin. Bahwa masuk angin hebat tersebut sesungguhnya adalah penyakit yang berbahaya, bahkan bisa menimbulkan kematian hanya dalam waktu 15 hingga 30 menit sejak serangan pertama.
Jadi kata Prof. Teguh lagi, jika Anda tiba-tiba merasa nyeri dada, napas sesak dan keluar keringat dingin sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik apapun termasuk berhubungan seks. Segeralah pergi ke rumah sakit yang menyediakan fasilitas pena-nganan gawat darurat jantung. Ingat, penanganannya harus cepat. Tidak boleh lebih dari 15 menit setelah serangan nyeri pertama.
Sindrom serangan jantung koroner akut merupakan pene-muan terbaru akhir abad ini pada bidang penyakit jantung. Karena ketidaktahuan masyarakat secara luas sehingga penanganan pe-nyakit ini pun menjadi tidak tepat sehingga gejala penyakit ini banyak disikapi masyarakat dengan tindakan yang salah. Misalnya, penderita dikerok punggungnya dengan uang lo-gam, dipijat (dikusuk), diberi minuman air panas, diberi jamu tolak angin atau ramu-ramuan untuk mengeluarkan angin. Padahal, penderita bisa saja meninggal mendadak tanpa ada tanda-tanda sakit jika tidak ditangani secara tepat.
Gejala-gejala
Gejala-gejala sindrom ini biasanya adalah muncul keluhan nyeri di tengah dada, seperti ditekan, diremas-remas, men-jalar ke leher, lengan kiri dan kanan, serta ulu hati. Rasa terbakar dengan sesak napas dan keringat dingin. Keluhan nyeri ini bisa merambat ke kedua rahang gigi kanan atau kiri, bahu, serta punggung. Lebih spesifik, ada juga yang disertai kembung pada ulu hati seperti masuk angin atau maag.
Sumber masalah sesung-guhnya terletak pada penyem-pitan pembuluh darah jantung (vasokonstriksi) . Penyempitan ini diakibatkan oleh empat hal. Pertama, adanya timbunan lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah akibat konsumsi kolesterol tinggi. Kedua, sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah (trombus). Ketiga, vaso-konstriksi atau penyempitan pembuluh darah akibat kejang yang terus menerus. Keempat, infeksi pada pembuluh darah.
Penyempitan itu, mengakibatkan berkurangnya oksigen yang masuk ke dalam jantung. Ketidakseimbangan pasokan dengan kebutuhan oksigen pada tubuh mengakibatkan nyeri dada yang dalam istilah medisnya disebut angina.
Tapi hendaknya dibedakan antara keluhan nyeri pada sindrom serangan jantung koroner akut (SSJKA) dengan serangan jantung koroner (SJK) (infark miokard). Pada SJK, angina terjadi akibat sumbatan total pembuluh darah jantung karena aktivitas fisik yang berlebihan.
Sementara pada SSJKA angina terjadi akibat sumbatan tidak total yang dirasakan saat istirahat. SSJKA ini memang mendadak. Bukan karena capek, masuk angin, atau penyakit-penyakit lainnya. Biasanya penderita akan meninggal paling lama lima belas menit setelah keluhan rasa nyeri pertama kali dirasakan.
Untuk itu masyarakat diminta waspada terhadap keluhan angina ini. Soalnya penderita sebelum terserang akan tampak sehat-sehat. Solusi satu-satunya hanyalah melonggarkan sumbatan yang terjadi, yaitu dengan mem-berikan obat anti platelet (sel pembeku darah) dan anti koagu-lan. Atau obat untuk mengan tisipasi ketidakseimbangan supplai oksigen dan kebutuhan oksigen. Misalnya nitat, betabloker dan kalsium antagonis.
Ahli jantung RS Jantung Harapan Kita dr. Santoso Karo-Karo MPH, SpJp mengungkapkan kondisi rumah sakit di Indonesia tidak terlalu bisa diharapkan untuk pengobatan SSJKA. Rumah sakit terkesan lambat menangani pasien. Untuk itu ia menyarankan agar penderita yang sudah tahu bahwa dirinya memiliki gangguan jantung sebaiknya membawa tablet antiplatelet ke manapun ia pergi.
Obat antiplatelet yang paling murah dan gampang dicari di kedai, toko obat atau apotik karena dijual bebas (tanpa resep dokter) adalah aspirin. Obat ini selain bermanfaat sebagai pertolongan pertama mengatasi nyeri dan melonggarkan kembali pembuluh darah yang tersumbat oleh thrombosit atau platelet (sel pembeku darah). Minum dengan segelas air putih, jangan minum jamuan-jamuan yang mengandung zat-zat tertentu yang justru bisa menghambat kerja obat ini. Karena ini bukan masuk angin, maka si penderita jangan dikusuk atau dikerok punggungnya biarkan penderita beristirahat dengan cukup. ***