Penegakan Hukum Tak Serius

‘Andai Aku Jadi Gayus’, Sindir Penegakan Hukum yang Tidak Serius

Oleh : Fadil Abidin

Dimuat di Harian Analisa Medan, 27 Januari 2011

Bona Paputungan, 32 tahun, mendadak tenar di negeri ini. Video klip lagu yang disenandungkan oleh mantan narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kota Gorontalo itu banyak diburu peselancar di dunia maya. 

Lagu "Andai Aku Jadi Gayus”  inilah yang membuat namanya menjadi beken. Video klip berdurasi 4 menit 47 detik itu pertama kali diunggah ke dunia maya pada 14 Januari lalu. Dalam tempo satu hari kemudian, yang menggunduh lagu ini sudah mencapai lebih 150.000 orang. Kini, lagu tersebut sudah banyak juga tersebar melalui telepon seluler (ponsel). Bahkan, ada juga yang bangga memakai lagu tersebut sebagai nada dering di ponselnya.
Video yang diunggah di Youtube ini memang cukup menggelitik tapi penuh dengan kritik. Intinya, Bona menceritakan kisahnya ketika mendekam di terali besi sejak 11 Maret 2010. Setelah keluar dari penjara itulah, dia kemudian membuat video klip unik ini. Lagu ciptaannya itu juga tengah hangat dibahas lewat situs-situs jejaring sosial, seperti Facebook  Twitter, Kaskus dan sebagainya. Para pengguna akun jejaring pertemanan ini ramai-ramai menge-share lagu "Andai Jadi Aku Gayus".
Lagu itu menceritakan perbandingan perlakuan hukum yang didapat oleh narapidana biasa dengan terdakwa mafia pajak dan hukum Gayus Tambunan. Bona Paputungan adalah musisi lokal yang sempat merasakan pahitnya hidup di penjara. Bona mengaku sering mendapatkan perlakuan tidak adil saat menjalani proses hukum. Jauh sekali dengan yang dialami Gayus.
Lagu itu tentunya bukanlah tentang keinginan Bona menjadi seorang mafia pajak macam Gayus. Lagu itu sebagai gambaran ketidakadilan yang dialami masyarakat lemah dibandingkan dengan perlakuan istimewa yang diterima Gayus, juga ketidakberdayaan pemerintah mengusut tuntas kasus itu. Lagu ”Andai Aku Jadi Gayus” merupakan sindiran terhadap penegakkan hukum yang tidak pernah serius.
Perlakukan Istimewa
Bona menyindir perlakuan istimewa yang diterima terdakwa mafia pajak, Gayus Tambunan, ketika menjalani masa tahanan. Gayus bisa dengan mudah plesiran ke Bali, bahkan sampai ke luar negeri. Dalam video klip tersebut, Bona dijebloskan ke penjara. Penjara yang pengap dan hanya beralaskan lantai tempat ia tidur. Bona kemudian bermimpi jadi Gayus, dengan melambai-lambaikan uang kepada sipir penjara, ia pun bebas keluar. Bahkan sipir penjara itu pula yang menyediakan rambut palsu, kaca mata,  jas dan kaca rias. Tak sampai di sini saja, Gayus pun diperlakukan bak pejabat, ia dikawal keluar penjara menuju mobil mewah. Para sipir membukakan pintu dan memberi hormat kepada ’Gayus’.
Video klip tersebut seakan menyindir para pihak yang telah memakan uang suap dari Gayus. Dalam video tersebut, si ’Gayus’ tidak menyogok dengan uang segepok. Tapi hanya dengan uang selembar yang dikipas-kipaskan ke muka sang sipir. Ini merupakan sindiran, betapa murahnya harga diri dan integritas para penegak hukum kita.   
Di negeri ini memang segalanya bisa dibeli, tinggal menentukan harganya saja. Kita bisa membeli jabatan walikota, bupati, gubernur, menteri bahkan presiden sekalipun. Jabatan ini tidak gratis, dan akan jatuh kepada penawar tertinggi. Mereka mengeluarkan uang bermiliar-miliar, bahkan bila perlu berhutang. Walikota, bupati, gubernur, dan presiden yang terpilih di negeri ini adalah orang yang paling banyak mengeluarkan uang (baca : dana kampanye) dibanding pesaing lainnya yang kalah.
Jika kemudian mereka terpilih, harap maklum. Mereka akan tersandera oleh hutang-hutang mereka, baik dalam bentuk uang, dukungan, pengaruh, politik, kekuasaan dan sebagainya. Presiden SBY sendiri saat ini punya ’banyak hutang’ terutama kepada partai-partai politik yang mendukungnya dalam koalisi.  
Akibat ’hutang’ inilah, Presiden SBY seperti tersandera. Ia tidak bisa menindak menteri yang tidak becus bekerja, karena sang menteri berasal dari partai yang telah memberinya jasa. Ia tidak bisa menuntaskan kasus Gayus karena menyangkut pengusaha nasional dan tokoh politik yang telah memberikan jasa pula. Sehingga Benny K.Harman, salah seorang anggota DPR dari Partai Demokrat pernah menyatakan, kasus Gayus sulit diungkap secara tuntas, karena bisa menyebabkan instabilitas ekonomi dan politik.
Uang menjadi Panglima
Lagu "Andai Aku Jadi Gayus” merupakan sindiran betapa tidak seriusnya penegakan hukum di negeri ini. Hukum bahkan politik sekalipun telah tunduk dengan uang. Uang telah menjadi panglima, ia bisa membeli apa saja.  
Ketika uang menjadi panglima, ia bisa mengatur segalanya. Dan lihatlah apa yang terjadi. Ada joki napi, seseorang yang punya uang bisa menukarkan dirinya dengan orang lain sebagai pengganti di penjara. Dengan uang, sel penjara bisa disulap bak ruang hotel berbintang dengan segala fasilitas yang mewah. Dengan uang, tahanan bisa keluar bebas semaunya, contohnya Gayus, ia bisa keluar-masuk tahanan sebanyak 63 kali, pergi ke Bali dan keluar negeri.  
Sementara untuk napi atau tahanan lain yang terjerat kasus jauh lebih ringan dan bukan dari kalangan pejabat atau konglomerat, 'hidup nyaman' di penjara adalah hal yang mustahil. Untuk izin keluar tahanan saja susahnya minta ampun, seperti unta masuk ke dalam lubang jarum. Padahal sang tahanan mengajukan izin keluar untuk melayat ibunya yang meninggal atau menjenguk anak-isterinya yang tengah sekarat sakit. Tapi, coba sodorkan uang, maka segalanya bisa diatur. Tapi dari mana si miskin akan mendapat uang? Sementara ia ditahan karena tertangkap tangan ketika mencuri ayam, ia mencuri karena  anaknya kelaparan.       
Tidakkah para pemimpin di negeri terketuk hati nuraninya? Lihatlah ada satu keluarga yang tewas akibat makan tiwul karena tak sanggup lagi membeli beras. Lihatlah seorang ibu yang melaukan bunuh diri karena miskin, terlilit utang dan menderita sakit yang tak tersembuhkan. Balita-balita yang menderita busung lapar karena dicekoki nasi aking terus oleh ibunya yang tak sanggup memberi makanan yang layak. Satu keluarga yang berburu bangkai ayam yang dicampakkan ke sungai atau tempat sampah, bangkai tersebut kemudian direbus lalu dimakan. Lihatlah para buruh kita, mereka cuma dibayar Rp 20-30 ribu perhari. Kerja satu hari hanya untuk mencukupi kebutuhan satu hari itu pula.
Sementara si Gayus, hanya untuk mengurus paspor ’aspal’, ia dengan mudahnya merogoh kocek 100.000 dollar atau sekitar Rp 1 miliar. Bagi dia uang segitu ibarat recehan. Sementara untuk menyogok penjaga tahanan, konon ia mengeluarkan tak kurang Rp 100 juta per minggu. Ironisnya, tak satupun orang di negeri ini yang tahu berapa kekayaan Gayus sebenarnya. Uang ratusan miliar di beberapa rekening memang telah dibekukan oleh kepolisian. Tapi terbukti, uangnya masih banyak, karena ia masih bisa menyogok penjaga tahanan, dan mampu beli paspor aspal yang mahal serta pelesiran keluar negeri.  
Kita semua pasti geram melihat ulah Gayus dan orang-orang yang berada di belakangnya. Bahkan karena sangat geramnya, Hermawan Sulistyo, dosen PTIK dan pengamat politik, dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta pernah berujar,”Serba salah menghadapi si Gayus, ditembak katanya melanggar HAM. Diceburin ke laut, mengotori laut saja. Lebih bagus si Gayus digelitiki saja sampai mati...”  
Skeptis
Kasus mafia pajak yang dilakukan Gayus, sebenarnya bukan kasus yang berdiri sendiri. Rasanya mustahil, seorang PNS golongan IIIA mempunyai kekuasaan untuk memanipulasi pajak seorang diri. Mafia tidak pernah bekerja sendirian, tapi bekerja secara bersama-sama dalam suatu organisasi yang rapi. Memfokuskan Gayus seorang diri dalam manipulasi pajak ini juga tidak akan menuntaskan masalah sampai ke akarnya. Gayus hanyalah ranting, sementara batang dan akarnya belum tersentuh sama sekali.    
Kita memang harus skeptis bahwa kasus mafia pajak ini akan terselesaikan atau tuntas sampai ke akar-akarnya. Banyak pihak yang terlibat dan bermain di dalamnya. Banyak tokoh politik, pengusaha dan perusahaan besar yang bersinggungan dengan Gayus.  Sehingga Benny K.Harman, tidaklah salah jika menyatakan, kasus Gayus sulit diungkap secara tuntas, karena bisa menyebabkan instabilitas ekonomi dan politik. Benarkah?
Gayus tentu tidak mau dijadikan tumbal seorang diri. Dengan posisi yang maha penting dan strategis ini, Gayus dengan segala pengaruh dan uangnya pun bertingkah. Gayus merasa seperti ’superman’. Ia merasa bisa berbuat apa saja, karena ia yakin ada perlindungan politik dan hukum terhadap dirinya. Ia tentu akan menyeret nama-nama lain jika ia dihukum berat misalnya. Maka tiada pilihan lain bagi orang-orang yang bersinggungan dengan Gayus untuk mempengaruhi keputusan. Akhirnya adalah, Gayus tetap akan dihukum, tapi tentu dengan hukuman  yang ringan agar ia tidak menyebut nama-nama lain yang terlibat. Dan sebagai rakyat, kita hanya bisa bernyanyi dan bermimpi, ”Andai Aku Jadi Gayus”. ***