Kim Jong Il : Pahlawan atau Tiran?

Kim Jong Il :
Pahlawan atau Tiran?
Oleh : Fadil Abidin
Dimuat di Harian Analisa Medan, 24 Desember 2011

            Jung Man Yong, seorang petani dari Korea Utara suatu sore menangkap seekor ikan besar dari sungai. Ia pun pulang ke rumah dan meminta istrinya untuk menggoreng ikan tersebut. “Kita punya ikan goreng untuk makan malam!” kata Jung. “Tapi kita tidak punya minyak goreng,” sahut istrinya. “Kalau begitu dikukus saja,” ujar Jung. “Kita juga tidak punya panci untuk mengukus,” jawab istrinya. “Kalau begitu dibakar saja,” imbuh Jung. “Kita tidak punya kayu bakar,” ujar istrinya lagi. Sambil marah Jung kembali ke sungai dan melepaskan kembali ikan itu pergi. Ikan itu berenang berputar-putar dan melompat dari air sambil bersorak, “Hidup Jenderal Kim Jong Il!”     

            Cerita di atas adalah anekdot yang beredar di internet, yang secara sarkatis mengkritik kemiskinan di Korea Utara. Warga Korea Utara (Korut) kerap dilanda kelaparan, hantaman bencana dan embargo ekonomi dari negara Barat tidak menyurutkan niat Kim Jong Il mengembangkan senjata nuklirnya. Bencana kelaparan tahun 2004-2005 konon telah menewaskan lebih dari 2 juta rakyat Korut. 
Pemimpin Korut, Kim Jong-Il, meninggal Sabtu (17/12) pada usia 69 tahun, sehingga membawa negara nuklir itu ke dalam situasi dan kondisi ketidakpastian. Kim akan dimakamkan di Pyongyang pada (28/12).  Di antara ketiga putra yang dimiliki Kim Jong Il, Kim Jong Un tampaknya akan menjadi calon pemimpin baru. Masalahnya, kedua kakaknya dianggap tak punya potensi memimpin 24 juta rakyat Korut.
Putra sulung, yaitu Kim Jong Nam, sudah terlalu lama berada di luar negeri. Bahkan, Jong Nam sudah membuat malu ayahnya saat dia ketahuan berupaya kabur ke Jepang dengan paspor palsu pada 1990-an. Putra kedua Jong Il, Kim Jong Chol, malah dianggap punya kepribadian menyimpang, karena bersifat lebih mirip perempuan ketimbang lelaki.
Kim Jong Un yang berusia 27 tahun telah diangkat menjadi jenderal berbintang empat oleh ayahnya sendiri padahal dia tidak pernah berdinas militer. Namun, dia merupakan kesayangan Jong Il. Penampilan dan ambisi Jong Un mirip dengan Jong Il. Beberapa bulan terakhir, Jong Un selalu menyertai ayahnya dalam tugas-tugas kenegaraan, seakan menegaskan peran besar yang akan diembannya kelak. Rakyat Korut diserukan untuk mengikuti putra bungsu Kim dan ahli warisnya, Kim Jong Un.
Korut dengan nama resmi Peoples Republic of Korea (PRK) atau Republik Rakyat Korea, jangan dibayangkan sebuah negara dengan sistem republik, tapi lebih mirip monarki absolut. Di sana hanya satu partai, Partai Komunis Korea, tidak pernah ada pemilihan umum dan jabatan presiden diwariskan secara turun-temurun. Presiden pertama Korut, Kim Il Sung mewariskan jabatannya kepada Kim Jong Il, dan Kim Jong Il menurunkan kepada putra bungsunya, Kim Jong Un.    
Negeri Ironi
Barangkali tak ada seorang pun manusia yang mau hidup di Korut, sebuah negara bak penjara besar yang selalu dipropaganda oleh para pemimpinnya dengan darurat perang. Para pemimpin Korut selalu menakuti rakyatnya bahwa Amerika dan sekutunya akan menyerang mereka dengan senjata nuklir. Jadi semua rakyat harus siap menjalani wajib militer, kerja paksa di pabrik-pabrik senjata dan proyek lainnya. Ribuan orang Korut yang tidak tahan tewas mengenaskan karena mencoba mencari suaka ke Korea Selatan.   
 Warga Korut hidup seperti katak di bawah tempurung. Segala informasi disensor secara ketat, televisi, radio dan media massa semuanya milik pemerintah yang hanya berisi propaganda. Parabola, internet atau telepon seluler hanya dipunyai petinggi negara. Setiap rumah dan gedung di Korut harus dipajang foto Kim Jong Il, dan rakyat Korut dengan proses “cuci otak” yang panjang akhirnya hanya bisa pasrah. Mereka menganggap Kim Jong Il dan rezimnya sebagai para dewa yang tak boleh dibantah, segala perkataannya adalah benar.
Mata-mata disebar, bahkan setiap orang wajib memata-matai orang lain. Ayah memata-matai anaknya, anak memata-matai ayahnya. Mereka harus menjauhi perkataan dan perbuatan yang bersifat mengkiritk pemerintah, jika tidak ingin berakhir di kamp-kamp kerja paksa. Korut adalah negeri ironi yang meyedihkan.
Dunia sering menuduh Kim Jong Il telah menjerumuskan rakyatnya dalam kemiskinan akut. Dia lebih peduli pada obsesi militer, menantang dunia dengan program nuklir dan misil yang mengarah ke Jepang dan Korea Selatan.  Ia juga digambarkan sebagai otak kriminal, dalang sejumlah pengeboman mematikan, dalang penculikan warga Korsel dan Jepang untuk dicuci otaknya menjadi mata-mata, dan sangat terobsesi menyerang Korsel. Berkali-kali Kim Jong Il melakukan provokasi dengan meluncurkan rudal ke wilayah Korsel, mengebom kapal laut hingga pesawat sipil milik Korsel.    
Tapi di antara gambaran tersebut, ada juga pihak-pihak yang menganggap Kim Jong Il sebagai pahlawan. Dosen Diplomasi Ekonomi Program Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Tirta Mursitama Ph.D, mengatakan bahwa kematian pemimpin Korut dalam konteks hubungan internasional dapat dimaknai dua hal.
Pertama, menurut dia, Kim Jong Il merupakan simbol perlawanan terhadap Barat yang tersisa di kawasan Asia bahkan dunia. Secara moral mengurangi kekuatan perlawanan Korut atas Barat dan sekutunya. Kemungkinan pandangan dunia adalah menganggap kekuatan Korut telah habis dengan meninggalnya sosok Kim Jong Il atau paling tidak akan terjadi perubahan strategi Korut menjadi lebih lunak dan kompromistis, katanya.
Kedua, dalam penilaiannya, konsekuensi dari hal pertama, yakni strategi Barat dan konstelasi kekuatan melawan Korut tentu akan berubah. Mereka dapat menerapkan strategi yang menekan lebih keras sehingga membuat Korut mau lebih berkompromi.
Bagi kawasan Asia, kata Tirta, seiring dengan pandangan pertama, kemungkinan menjadi kawasan yang lebih stabil dengan kemauan bekerja sama akan lebih besar. Negara-negara kawasan Asia harus lebih proaktif untuk mendekati pemimpin baru Korut dan menjajaki sebuah komitemen untuk saling menghargai dan mewujudkan perdamaian di kawasan Asia Timur khususnya semenanjung Korea (vivanews.com,19/12/2011).  
Ambivalensi
Beberapa kalangan menganggap bahwa dinasti Kim akan segera berakhir. Menurut surat kabar Korea Selatan Choson Ilbo (20/12/2011), opini publik mengenai dinasti Kim semakin memburuk.
"Banyak orang melihat Kim Il Sung menjadi figur ayah yang mendapat penghormatan secara luas di Korut. Namun anaknya Kim Jong Il dipandang sebagai diktator dan tiran. Cucunya Kim Jong Un bukan seorang tokoh dan juga tidak berpengalaman," tulis koran itu.
Salah seorang pembangkang dari Korut yang berhasil membelot ke Korsel mengatakan, "Kim Il Sung yang disebut bapak semua rakyat ketika meninggal banyak orang meneteskan air mata. Generasi lama yang hidup lebih sulit di bawah kekuasaan Kim Jong Il mengatakan kondisinya lebih baik di bawah Kim Il Sung."
"Kaum manula di Korea Utara yang tinggal selama pendudukan Jepang mengatakan, di bawah kekuasaan Jepang kereta api beroperasi tepat waktu dan jatah makanan dibagikan dengan lancar. Mereka mengatakan Kim Jong Il lebih buruk dari penguasa Jepang karena jutaan orang terancam kematian karena kelaparan di samping itu ekonomi hancur."
Awal dekade millenium ini rupanya menjadi akhir dari beberapa tiran yang berkuasa di berbagai belahan dunia. Mereka yang pada awalnya dieluk-elukkan sebagai pahlawan, mendadak berubah menjadi tiran setelah kejatuhannya. Kita pun pernah merasakan ambivalensi ini ketika menimpa para pemimpin kita terdahulu, antara tiran atau pahlawan.
Tapi apapun sebutannya semua tergantung pada sudut pandang individu masing-masing. Dan sejarah pun akan menulis, apakah mereka seorang tiran atau pahlawan. Tapi bukankah sejarah juga terkadang tidak jujur karena terdistorsi oleh kepentingan mereka yang menjadi pemenang? ***


            * Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan.