Tahun Baru sebagai Momentum Resolusi

Tahun Baru sebagai Momentum Resolusi
Oleh : Fadil Abidin

            Apa yang baru di tahun baru? Cahaya matahari tetap muncul di ufuk timur dengan kecepatan 300.000 km per detik menempuah jarak 150 juta km. Kita tidak pernah menyadari bahwa cahaya matahari perlu waktu 500 detik untuk sampai ke bumi. Jadi sinar matahari yang menghangatkan tubuh kita setiap harinya, menempuh waktu sekitar 8,3 menit melewati angkasa raya sebelum sampai pada kita.  

Ada yang berpendapat bahwa tahun baru adalah peristiwa kosmologis dimana planet bumi telah berevolusi mengitari matahari sekali putaran. Bumi diibaratkan pelari yang berlari melewati jalur lintasan bundar, sehingga antara garis start dan finish menjadi suatu titik pangkal yang sama.
            Tapi apa yang menjadi titik pangkal dalam konsep penanggalan tersebut hanyalah garis imajiner. Tak seorang pun manusia maupun teknologi canggih yang bisa memastikan kapan waktu bermula dan kapan pula waktu akan berakhir. Sehingga manusia di tiap peradaban membuat garis waktu yang dinamakan penanggalan atau kalender dengan versinya masing-masing.
Kalender Masehi yang kini dipakai secara internasional pada awalnya bukan dipakai sebagai pembatas waktu hari, minggu, bulan dan tahun. Ia bermula dari pemujaan kepada para dewa dalam mitologi Romawi. Sistem penanggalan ini tidak mempunyai konsep dan patokan yang baku, karena  jumlah hari dan bulan ditentukan oleh sang kaisar yang berkuasa. Tak jarang sang kaisar memanipulasi jumlah hari dalam setahun. 
Tradisi penyambutan tahun baru sebetulnya bukan “produk baru”. Tahun baru pada awalnya adalah produk mitologi. Sejarahnya sudah terdeteksi sejak tahun 153 SM. Bangsa Romawi merayakan tahun baru untuk menghormati Dewa Janus, dalam mitologi Romawi dikenal sebagai ”Dewa Permulaan dan Akhir” atau ”Penjaga Pintu dan Gerbang”. Sehingga awal tahun baru dinamai bulan Januari. Janus mempunyai dua wajah : satu melihat ke masa lalu dengan wajah sedih, satunya lagi memandang ke masa depan dengan wajah berseri.
Orang-orang Romawi bila ingin melakukan permulaan suatu pekerjaan biasanya memohon pertolongan kepada Janus. Sejak itu, Janus menjadi ikon kepercayaan kuno tentang resolusi. Bangsa Romawi kerap menjadikan awal tahun baru sebagai ajang perdamaian. Masa dimana permusuhan berakhir. Lawan dirangkul, damai disebar. Pokoknya, memasuki tahun baru dengan hati lapang tanpa permusuhan. Wajah Janus yang memandang ke depan menjadi simbol semangat dan optimisme baru.
Kalender Masehi
Tahun baru sendiri tidak mutlak dimulai ketika kalender menunjukkan tanggal 1 Januari.  Tergantung kalender mana yang dipakai. Berbicara tentang sejarah kalender atau penanggalan Masehi ini memang sedikit membingungkan. Ada penanggalan ala Romawi. Satu tahun ada 10 bulan atau 304 hari. Awal tahun dinamakan bulan Maret, untuk menghoramti Dewa Perang Martius. Sistem penanggalan ini tidak terlepas oleh gaya suka-suka para Kaisar Romawi. Mereka senang mengubah-ubah sistem penanggalan demi memperpanjang masa pemerintahan mereka.
Ada juga penanggalan ala Julian. Dari namanya, pencetusnya adalah Julius Caesar. Satu tahun ada 365 hari. Dihitung dari waktu yang diperlukan bumi untuk mengelilingi matahari. Nama Julius Caesar diabadikan menjadi bulan ke tujuh dengan nama bulan Juli.
Ada penanggalan ala Gregorian. Bermula ketika tahun 1582 terjadilah titik equinox, siang dan malam sama lamanya, dan baru ketahuan kalau penanggalan ala Julian tidak akurat. Ada kelebihan ¼ hari yang tidak diperhitungkan sehingga jika diakumulasikan selama 1500 tahun mengakibatkan hari-hari besar keagamaan menjadi tidak sesuai dengan musimnya. Natal pada waktu itu sudah jatuh pada bulan April ketika musim panas yang seharusnya tiba pada awal musim dingin. Paus Gregorius XIII turun tangan dan mengeluarkan maklumat pada Konsili Nicea I, untuk membenahi sistem penanggalan yang ada. Dari situlah bermulanya kalender Gregorian yang kita gunakan sampai sekarang. Dimana setiap empat tahun sekali disebut tahun kabisat dengan jumlah 366 hari.
Yang unik adalah penyebutan nama-nama bulan dalam kalender Masehi tidak sesuai dengan arti sebenarnya. Hal ini karena pada awalnya kalender Masehi berjumlah 10 bulan, pemasukan nama Julius Caesar untuk bulan ke-7 dan Augustus Caesar untuk bulan ke-8, mengacaukan penyebutan nama-nama bulan yang telah ada sebelumnya.  
Akibatnya, September yag berarti ketujuh, diambil dari bahasa Latin Septem, meski bergeser menjadi bulan ke-9 nama September tidak diganti. Oktober sama seperti September, tidak mengalami perubahan nama ketika terjadi pergeseran bulan Oktober berasal dari kata Octo yang berarti delapan menjadi bulan ke-10. November, dari bahasa Latin Novem artinya bulan kesembilan kini menjadi bulan ke-11. Desember, dari kata Decem, bahasa Latin artinya sepuluh tetapi menjadi bulan ke-12.
Lebih jauh sistim penanggalan juga terus berkembang. Jika tahun masehi sering disebut sebagai Anno Domini (A.D), maka ada sistem penanggalan Hijriyah atau Anno Hegirae (A.E). Ada juga sistim penanggalan China, kedua sistem ini penghitungannya bukan berdasarkan matahari (solar calendar), tetapi berdasarkan bulan (lunar calendar).
Tidak heran kalau yang namanya tahun baru pun tidak satu. Di Indonesia sendiri, selain tahun baru Masehi atau tahun baru internasional, ada tahun baru untuk Islam yang dikenal dengan tahun baru Hijriah (1 Muharam), tahun baru China (Imlek), dan tahun baru Hindu (tahun baru Saka) yang diawali dengan tradisi Nyepi.
Resolusi
Namun kapan pun tanggal tahun baru itu, sebenarnya tidak terlalu penting. Karena setiap hari yang kita lalui pada hakikatnya adalah tahun baru. Jauh lebih penting makna di balik setiap perayaan itu, bahwa ada saat dimana kita perlu sejenak berdiam diri untuk berkontemplasi; menengok ke belakang, kepada kehidupan yang sudah kita jalani, sambil kemudian kita menata diri untuk melangkah ke depan, kepada kehidupan yang akan kita jalani. Momen untuk beresolusi.
Resolusi adalah ketetapan hati. Seumpama target yang kita canangkan di awal langkah, untuk kemudian kelak diakhir langkah kita melakukan introspeksi dengan evaluasi. Bisa juga dibilang koridor atau pagar bagi langkah kita, supaya jelas arah tujuan, tidak terombang-ambing seperti layangan putus. Atau seperti ikan mati yang hanyut terus mengikuti arus air.
Betul, untuk membuat resolusi tidak perlu menunggu awal tahun baru. Akan tetapi tidak ada salahnya juga awal tahun dijadikan awal momentum. Sebab bagaimana pun momen itu penting sebagai titik pijak. Saat untuk mengibarkan bendera start. Mengangkat sauh, membentangkan layar dan bersiap menghadapi ombak dan badai yang menantang di depan. Pokoknya, momen untuk mulai.
Dan yang penting pula adalah adanya tekad untuk melaksanakan resolusi itu. Sebab sebaik apa pun resolusi kita, kalau itu tidak dibarengi tekad dan dispilin kuat untuk melaksanakannya, maka jadinya hanya hayalan belaka. Tahun baru harus dijadikan sebagai momentum resolusi. Apa yang sudah terjadi di tahun kemarin merupakan pelajaran besar dan bahan perenungan untuk semakin matang dan bijak dalam melangkah di tahun depan. Selamat tahun baru 2012! ***