Gunung Berapi, Antara Berkah dan Bencana


Gunung Berapi, Antara Berkah dan Bencana
Oleh : Fadil Abidin

Beberapa gunung berapi di Indonesia beberapa waktu lalu hingga saat ini tengah menunjukkan aktivitas vulkanik, seperti gunung api Sinabung, Merapi, Kelud, Bromo, Kerinci, Gamalana kini Gunung Lokon di Sulawesi Utara tengah menunjukkan aktivitas vulkanik menuju erupsi (meletus).

Secara umum gunung berapi atau gunung api, merupakan gunung yang masih aktif melakukan aktivitas letusan, atau suatu permukaan bumi yang menonjol yang mempunyai kekuatan dari dalam untuk mengeluarkan material yang terkandung di dalamnya yang disertai dengan awan panas.
Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki gunung api di dunia. Tidak kurang dari 500 buah gunung api yang tersebar di Indonesia dan 129 diantarnya merupakan gunung api aktif, sekitar 70 dari gunung api aktif tersebut sering meletus. Luas daerah yang terkena seluas 16.670 km, jumlah jiwa yang terancam 5 juta orang.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 110 kabupaten/kota dari 456 kabupaten/kota di Indonesia termasuk berkerawanan tinggi gunung api. Hal ini berarti hampir 25 persen daerah kabupaten/kota di negara ini dalam situasi dan kondisi terancam aktivitas gunung api. Penyebaran gunung api di Indonesia meliputi Sumatera (30 buah), Jawa (35), Bali (2) dan Nusa Tenggara (28), Kepulauan Maluku (16), dan Sulawesi  (18).   
Gunung Merapi merupakan satu dari 10 gunung berapi yang paling berbahaya di dunia, selain beberapa gunung seperti Vesuvius (Italia), Sakurajima (Jepang), dan Galeras (Kolumbia).
Gunung Merapi berbentuk kerucut terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Gunung Merapi sudah aktif sejak 10.000 tahun yang lalu memiliki ketinggian 2.914 meter di atas permukaan laut, memiliki panorama alam yang sangat mempesona dan kesuburan tanah di sekitarnya sungguh luar biasa. Namun di balik keindahan dan keistimewaannya itu ternyata merupakan gunung berapi yang paling aktif di Indonesia dan meletus secara berkala mulai tahun 1548.
Letusan Merapi umumnya melibatkan runtuhnya kubah lava yang terus mengalir ke bawah, sering disertai dengan turunya asap panas (wedhus gembel) dengan kecepatan 120 km per jam sehingga banyak memakan korban jiwa. Tragedi serupa Merapi bisa terulang kapanpun dan di manapun, terutama di 110 kabupaten/kota yang wilayahnya ditempati atau berdekatan gunung berapi.
Berkah Alam
Walaupun gunung api merupakan sumber bencana yang merugikan tetapi di lain pihak gunung api juga memberi banyak manfaat. Lapukan batuan gunung api atau semburan abu merupakan pupuk alami yang kaya dengan mineral yang mendatangkan kesuburan bagi tanah.  Tanah yang subur mendatangkan berkah bagi penduduk di sekitarnya untuk bertani, berkebun dan berternak. Tanah di Pulau Jawa misalnya, lebih subur untuk pertanian ketimbang di Pulau Kalimantan, karena di Pulau Jawa banyak gunung api.
Selain kesuburan tanah, gunung api juga mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia, antara lain sebagai tempat wisata, sumber air panas untuk pengobatan, tempat petualangan alam, cagar alam, tempat penelitian geologi, tempat energi panas bumi, tempat penambangan pasir, kerikil dan batu. Material yang dihasilkan dari letusan atau aktivitas gunung api dapat dijadikan sebagai bahan galian industri seperti yarosit dan belerang (sulfur) untuk bahan industri kimia dan farmasi.  
Sehingga tidaklah mengherankan misalnya jika penduduk di sekitar lereng gunung Merapi enggan untuk pindah atau direlokasi di tempat baru yang jauh dari Merapi. Bagi mereka Merapi adalah sumber kehidupan sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk meninggalkan Merapi begitu saja. Di beberapa daerah, gunung api dihormati dengan beberapa ritual adat dengan persembahan aneka sesajian hasil ternak dan pertanian. Mereka percaya gunung api membawa berkah alam, jika ada bencana dengan meletusnya gunung api maka hal tersebut dianggap sebagai risiko yang harus ditanggung sebagai konsekuensi logis tinggal di daerah yang subur dan berpotensi ekonomi tinggi.   
Bencana Gunung Api
Letusan gunung berapi menimbulkan ancaman bencana, seperti lava pijar, awan pijar, bom api, pasir-abu panas, gas racun dan lahar. Ancaman yang berbeda akan membawa dampak yang berbeda serta akan membawa risiko yang berbeda pula. Selanjutnya risiko yang berbeda akan menimbulkan jawaban atau penanggulangan bencana yang akan berbeda. Misalkan saja ancaman awan pijar akan berbeda risikonya dengan ancaman pasir-abu. Ancaman awan pijar mengandung risiko kematian seketika dan upaya penanggulangannya adalah dengan evakuasi sejauh mungkin dari radius penyebaran awan pijar itu. Tapi ancaman pasir-abu membawa risiko Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan upaya penanggulangannya adalah dengan menggunakan masker.
Tapi yang paling berbahaya adalah munculnya awan panas, di Merapi disebut “wedhus gembel”. Ancaman lain yang berbahaya adalah gas racun yang merupakan kombinasi dari beberapa zat berbahaya seperti sianida, sulfur dan karbonmonoksida. Kedua ancaman ini sangat berbahaya karena awan panas dan gas beracun ini sangat mematikan dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Pengungsian harus segera dilakukan untuk menghindari korban jiwa.   
Ancaman dari letusan gunung berapi tersebut tidak dapat dilakukan secara sama rata (generalisasi). Misalkan saja dalam kasus letusan Gunung Sinabung tidak dengan serta merta semua penduduk yang tinggal sejauh 6 KM dari pusat letusan harus diungsikan. Hal itu mesti dilakukan dengan melihat apa ancaman yang lebih spesifik dari letusan tersebut, baru setelah jelas tipe ancaman dan risikonya maka upaya penanggulangan bencananya dapat lebih mudah untuk dilakukan. Pengungsian penduduk adalah salah satu jawaban dari banyak alternatif penanggulangan bencana letusan gunung berapi.
Selain mengungsikan penduduk, yang tidak kalah penting adalah memperhatikan aspek aset penghidupan warga sekitar, misalkan rumah, ternak, tanaman (di kebun, sawah, ladang), sumur, mata air, dll. Selama ini respon tanggap darurat lebih difokuskan kepada penyelamatan manusia, sedangkan aset penghidupan seringkali malah terabaikan. Jadi ketika para penduduk berada di pengungsian, mereka malah merasa tidak tenteram karena terus memikirkan rumah, tanaman dan ternaknya. Tidak heran bila di pengungsian hanya ramai pada malam hari, tapi pada pagi dan siang hari, tempat pengungsian sepi karena orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing untuk mengurus rumah, ternak dan tanaman mereka. Bahkan tak jarang mereka nekat menuju padang-padang rumput untuk mencari pakan ternak di lereng-lereng sekitar gunug api yang tengah aktif.
Dari sekitar 129 gunung berapi di Indonesia, setidaknya ada tujuh yang tergolong sangat aktif, dan letusannya menimbulkan banyak korban. Gunung-gunung tersebut ialah Merapi, Kelud, Galunggung, Agung, Krakatau, Maninjau dan Tambora. Letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1982, menewaskan lebih dari 4.000 jiwa dan meluluh-lantakkan 114 desa. Sementara letusan Krakatau tahun 1883 menewaskan 36 ribu jiwa.
Menurut situs www.ehow.com, sebagaimana dikutip Merry Wahyuningsih (dalam detikHealth), ancaman kematian dan kehancuran bisa diminimalkan dengan cara yang sederhana tanpa harus membuat peralatan super canggih karena hingga saat ini tidak ada peralatan yang mampu melawan letusan gunung berapi. Menurut situs tersebut, yang dibutuhkan adalah sedikit perencanaan dan akal sehat. Dengan begitu warga sekitar tetap bisa survive meski hidup berdampingan dengan gunung berapi.
Cara-cara tersebut antara lain memberi penjelasan kepada warga bahwa mereka tinggal di daerah gunung berapi aktif yang bisa meletus kapan saja. Hapalkan dan ketahui rute evakuasi. Pemerintah harus membuat rambu-rambu rute evakuasi yang jelas dan melakukan simulasi yang berkelanjutan. Jangan kembali memasuki zona evakuasi sampai pihak otoritas menyatakan daerah tersebut aman. Meskipun letusan gunung berapi telah berhenti memuntahkan abu dan lava, tapi kemungkinan masih banyak risiko seperti udara dan air yang mengandung belerang. Lebih baik tinggal di tempat perlindungan dan jangan meninggalkan lokasi penampungan sampai dinyatakan aman.
Jika memungkinkan pelajari tentang aliran lava, lahar, banjir lumpur, dan gas-gas beracun yang dikeluarkan oleh gunung berapi, hal ini untuk mengetahui ancaman bahaya dan mencari posisi yang lebih aman untuk berlindung. Gunung berapi biasanya akan memberikan tanda-tanda awal sebelum meletus. Tanda tersebut seperti gempa kecil, letusan dan gemuruh kecil dalam tanah, udara yang semakin panas, layunya tumbuhan, migrasi atau berpindahnya hewan dari lokasi gunung dan mengeringnya sungai atau mata air.
Pastikan untuk memakai masker atau kacamata jika pergi ke luar bangunan karena dampak yang paling utama dari abu vulkanik yang dirasakan manusia adalah masalah pernapasan, seperti iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, bronkitis, sesak napas (emfisema) hingga bahkan menyebabkan kematian karena saluran napas menyempit. Jika tidak ditemukan masker, warga bisa menggunakan sapu tangan, kain atau baju untuk melindungi diri dari abu atau gas.
Kita memang tinggal di daerah yang rawan bencana, diharapkan agar warga selalu waspada dalam menyikapi aktivitas gunung berapi yang lokasinya tersebar di 110 kabupaten/kota di Indonesia. Selain itu, manajemen bencana perlu dipersiapkan sedini mungkin, termasuk memasukan kurikulum pendidikan mengenai bencana, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam hal manajemen bencana kita bisa belajar dari Jepang, sebuah negara yang begitu siap dalam menghadapi bencana terutama gempa bumi. ***